Hari Buruh 1 Mei
Tadi pagi, gw baca di milis staff@cinox.co.id dan diingatkan bahwa tanggal 1 Mei ini diperingati sebagai hari buruh sedunia. Di thread milis tersebut, rekan kerja gw mengucapkan selamat hari buruh untuk kita semua. Rekan kerja gw tersebut juga menulis artikel di sini tentang MAYDAY (May Day, 1 Mei) sebagai berikut:
Kangmas juga kadang ga ngerti, kenapa mesti dirayain ?! ada yang bisa kasih penjelasan ? dan kenapa sering dirayakan dengan turun ke jalan, bawa poster, spanduk bertuliskan "Naikkan Gaji Buruh !", "Jangan Pecat Kami !", "Mana Pesangon Kami ?", dsb. kenapa ga dirayain di cafe atau di hotel berbintang sajah, ngundang media, biar lebih happening... hihihihi...
Tapi ga seru klo ngomongin sejarah... cuman pengen meng-capture dan mencoba memperkosa pikiran kawan2 tentang konsep BURUH. Banyak di antara temen2 kangmas, yg menanyakan sekarang pada mBURUH dimana. ada yg menjawab, di BUMN (Badan Usaha Milik Nyokap), BUMS (Badan Usaha Milik Sendiri), ada yg ORARI (ora kerjo wira wiri), Anak Pesantren (Pengangguran Santai tapi Keren), bahkan ada yg menyebut jadi "Buruh Negara". singkat kata, mulai dari Direktur, Tukang Kasur, Tukang Sayur, Tukang Cukur sampai Tukang Bajigur (koq kangmas malah jadi Tukang Ngawur... hihihihi). Hal inilah yang akhirnya menggelitik kangmas dan pengen tau tentang arti BURUH.
Bentar-bentar..., ada yang salah di sini. Gw jadi ingat diskusi singkat di Facebook tentang "buruh". Silakan simak potongan artikel yg gw co-pas dari Facebook Notes temen SMA gw, Roy Faliant, berikut ini :
Sebagian orang mengira bahwa kaum Marhaen ialah kaum proletar. Itu tidak benar. Sebab, apakah yang dinamakan “proletar” itu? Di dalam kamus Politik F.R. (Fikiran Ra'jat-ed) nomor percontohan istilah ini telah kita jelaskan dengan singkat. Proletar ialah orang yang dengan menjual tenaganya “membuat” sesuatu “barang” untuk orang lain (majikannya), sedang ia tidak ikut memiliki alat-alat pembuatan “barang” itu. Ia tidak ikut memiliki produktie-middlen. Seorang letterzetter adalah seorang proletar, karena ia menjual tenaganya, sedang letter-letter yang ia zet itu bukan miliknya. Seorang masinis adalah seorang proletar, karena ia menjual tenaganya, sedang lokomotif yang ia jalankan bukan miliknya. Seorang insinyur yang masuk kerja pada orang lain adalah juga seorang proletar, karena ia menjual tenaganya, sedang kantor atau besi-besi atau semen yang ia usahakan itu bukan miliknya. Insinyur ini biasanya disebutkan “proletar intelektual”.
Dus terang sekali, bahwa istilah proletar itu—buat gampangnya uraian kita—berarti “kaum buruh”. Di Eropa sudah selayaknya ada proletarisme, itu faham yang memihak kaum proletar. Sebab di semua kota-kota ada banyak perusahaan-perusahaan dan pabrik-pabrik, yang beribu-ribu kaum buruhnya. Kota-kota itu penuh dengan puluhan, ratusan kaum proletar. Juga di luar kota-kota di Eropa banyak kaum proletar. Di bidang pertanian di Eopa sudah sejak lama timbul landbouw-kapitalisme, yakni kapitalisme pertanian. Banyak sekali “kaum buruh tani” yang bekerja pada kapitalisme pertanian itu.
Seorang programmer "apakah dia proletar" juga?Dia menulis code untuk perusahaannya. Dan dia nge-packing code dijadiin installer, untuk dijual oleh perusahaannya. Tapi dia juga punya copy-an nya di property pribadi-nya (laptop/hdd/etc) dan dia bisa JUAL juga meskipun dia keluar dari perusahaannya. Programmer memiliki hak atas kekayaan intelektual dia yang ngga bisa dikekang (dan ngga mempan dikekang) oleh sebuah surat kontrak kerja, ancaman PHK, bahkan hukum atau undang-undang manapun di dunia ini.
Proletar juga kah?
Jawab : TIDAK
Proletar ialah orang yang dengan menjual tenaganya “membuat” sesuatu “barang” untuk orang lain (majikannya), sedang ia tidak ikut memiliki alat-alat pembuatan “barang” itu. Ia tidak ikut memiliki produktie-middlen. Jadi cukup jelas kalau programmer punya hak atas hasil produksi maka dia bukan proletar.
Programmer bukanlah buruh. Dan gw menolak mentah-mentah merayakan hari buruh hari ini.
_______________________

Rizky Prihanto
Software Architect PT Cinox Media Insani

Poskan Komentar